Wednesday, December 13, 2006

WASIAT SEORANG IBU KEPADA ANAK PEREMPUANNYA

Untuk Maisyaku yang hampir 1 th. Semoga nanti ayah dapat selalu mengingatkan mu akan hal ini.

Oleh
Abu Abdurrahman bin Abdurrahman Ash-Shabihi
sumber http://www.almanhaj.or.id


Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya,
mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa
menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya
berkata, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci
jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah
menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu
adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak
perempuannya disaat pernikahannya, “Sesungguhnya engkau telah keluar dari
sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga
menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu
jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu.
Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu.
Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba
untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu
dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat
kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah
darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia
mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali
engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada
calon suaminya, “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan
karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan
tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang
yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup
terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang
tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua
itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki
diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah
sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah melalui
perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan
qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah
dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia
mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala
tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur
menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan
dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam
keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta
jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya
berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar
perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau
persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah
perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan
hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu
dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai
atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika
ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin
Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan orang tuanya telah memberinya
nasihat, Ustman berkata, “Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan
perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling
pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua
perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga
wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut
(sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai anakku.. engkau
menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang mana ibu dan bapakmu
tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam
kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak
menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging
darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya.
Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam
kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki
kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah
engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh
dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan
yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan
keluarga karena dirimu. Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah
perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada
keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu
pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada
kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi
suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu
yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu.
Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi
bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak
memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka
tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin
seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk
mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan
berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata, “Wahai
anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan
badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat
melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga
menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu.
Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang
melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan
jiwa”.

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1996&bagian=0
[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa Muasyaratu
An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan, Penulis Abu
Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press]
_________
FooteNote
[1]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.79
[2]. Ahkamu An-Nisa karangan Ibnu Al-Jauzi hal.80

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home